PEMANFAATAN EKONOMI DARI POHON MERANTI

 

Makalah Ekonomi Sumber Daya Hutan                                               Medan,     Maret 2021

PEMANFAATAN EKONOMI DARI POHON MERANTI

Dosen Penanggung Jawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Disusun Oleh :

Zulkifli

191201066

HUT 4D

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ekonomi sumber daya hutan ini dengan baik. Penulisan makalah ini merupakan salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan. Dalam menulis makalah ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen penanggungjawab dan pengajar mata kuliah.

 Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, baik dari segi teknik penyusunan maupun dari segi materi dan pembahasan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.

 

 

       Medan,   Maret 2021

                                                                                                                                Penulis 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Meranti adalah marga kayu yang paling penting di kawasan basah Asia. Pemuliaan pohon (trees improvement stages) merupakan aplikasi pengetahuan variasi genetik dalam suatu jenis pohon hutan, untuk menghasilkan kualitas pohon yang lebih baik. Pemuliaan pohon merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan produk hutan dengan nilai ekonomi yang tinggi, biaya murah dan dalam waktu cepat. Forest tree breeding merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu produk khusus seperti pohon dengan sifat kayu tertentu (tahan hama, batang lurus). Sedangkan tree improvement merupakan kegiatan untuk meningkatkan produktivitas hutan (kuantitas dan kualitas) dengan mengendalikan asal-usul pohon, dipadukan dengan kegiatan pengelolaan hutan. Pohon induk (superior tree) merupakan suatu pohon yang memiliki penampakan lebih baik dari rata-rata dan terlihat dengan jelas.

Seleksi pohon induk merupakan langkah awal yang sangat menentukan dalam program pemuliaan. Pemilihan pohon induk merupakan kunci awal dalam pembangunan tegakan berkualitas. Menurut Zobel dan Talbert (1986), pohon induk atau select tree, superrior tree adalah pohon yang telah direkomendasikan sebagai tegakan breeding atau populasi produksi yang ditetapkan berdasarkan beberapa kriteria. Pohon induk harus memiliki fenotipe yang lebih baik dilihat dari pertumbuhannya, bentuk, kualitas kayu, atau karakteristik lainnya yang diharapkan, pohon-pohon induk dengan fenotipe yang superrior dapat ditunjuk dengan metode seleksi.

Perkembangan industri pengolahan kayu di Indonesia mengalami ketidak stabilan dikarenakan industri kayu tidak dapat memenuhi permintaan pasar (konsumen) yang mengakibatkan banyaknya perusahaan tidak beroperasi lagi. Sulitnya ketersediaan bahan baku menjadi alasan utama mengapa industri kayu tersebut tutup atau mengalami kebangkrutan. Permintaan pasar akan kayu semakin meningkat dari tahun ke tahun akan tetapi industri kayu tidak memiliki bahan baku untuk diproduksi, karena kayu – kayu yang digunakan sebagai bahan baku mulai sulit didapat khususnya untuk jenis-jenis kayu yang banyak diminati oleh pembeli yang selama ini banyak digunakan oleh industri kayu lapis seperti kayu meranti. Industri kayu memerlukan jenis ini sebagai bahan baku agar proses produksi tetap berjalan dengan baik.

Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijaksanaan untuk mendorong pertumbuhan industri perkayuan di dalam negeri, juga untuk meningkatkan ekspor non-migas dan berkaitan dengan usaha pemanfaatan hutan secara maksimal. Dengan adanya peningkatan ekspor nonmigas saat ini sektor kehutanan secara langsung maupun tidak langsung selalu berusaha terus meningkatkan nilai tambah (Value added) dengan mencari jenis – jenis kayu yang baru dikenal dan juga dengan cara mengetahui penyebaran kualitas dan kuantitas hasil olahan.

1.2  Rumusan Masalah

1.     1.  Bagaimana valuasi nilai ekonomi dari pohon meranti ?

2.      2. Bagaimana ketersediaan, jumlah dominansi permudaan dari meranti ?

3.    3.   Bagaimana potensi keberadaan dari pohon meranti ?

1.3  Tujuan Masalah

1.    1.   Untuk mengetahui valuasi nilai ekonomi dari pohon meranti.

2.     2.  Untuk mengetahui ketersediaan, jumlah dominansi permudaan dari meranti.

3.      3. Untuk mengetahui potensi keberadaan dari pohon meranti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

 

2.1 Bagaimana valuasi nilai ekonomi dari pohon meranti ?

Meranti (Shorea spp.) adalah komoditas penting yang merupakan salah satu jenis tanaman komersil penghasil kayu utama di Indonesia. Marga shorea atau yang secara umum disebut kelompok meranti merupakan salah satu marga dari suku dipterocarpaceae yang tumbuh di dataran rendah. Dalam dunia perdagangan, kelompok meranti dibagi menjadi empat kelompok besar yaitu : kelompok meranti merah, kelompok meranti kuning, kelompok meranti putih, dan kelompok balau. Kayu meranti menjadi primadona dalam perdagangan kayu sehingga kayu dari jenis meranti memiliki nilai perdagangan yang tinggi dan sangat terkenal. Kayu meranti merupakan salah satu jenis kayu yang paling banyak digunakan dalam kebutuhan manusia. Selain kayunya, beberapa jenis shorea dikenal sebagai penghasil buah yang memiliki nilai perdagangan yang dikenal dengan buah tengkawang. Tengkawang dipergunakan sebagai bahan dasar pembuatan coklat, kosmetik, industri margarin, sabun, dan lilin.

Meranti memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Namun, keberadaan tumbuhan endemik ini sudah hampir punah. Perlu dilakukan tindakan untuk melestarikan jenis, sehingga keberadaannya masih dapat dipertahankan. Arboretum memiliki peranan penting dalam mempertahankan kelestarian jenis-jenis pohon termasuk jenis pohon meranti. Dengan mengetahui ketersediaan jumlah permudaan meranti di arboretum, maka dapat diduga besar potensi meranti dalam beberapa tahun ke depan.

2.2 Bagaimana ketersediaan, jumlah dominansi permudaan dari meranti ?

Kayu meranti (Shorea spp.) memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jenis ini merupakan tanaman khas daerah tropis, pohon meranti dapat tumbuh didataran rendah atau dihutan hujan seperti Sumatera, Kalimantan, Maluku, serta Sulawesi. Ciri dari pohon tersebut memiliki tinggi sekitar 30-70m, berbatang lurus dan bulat, beralur cukup dalam, struktur kayu agak kasar, dan termasuk jenis kayu berat. Jenis kayu ini bagus digunakan untuk kayu pertukangan karena kayunya kuat dengan berat jenis diatas. Meranti terbagi menjadi empat kelompok yaitu meranti merah, meranti kuning, meranti putih, dan balau.

Pengembangan hutan tanaman meranti tembaga di luar Jawa diejawantahkan oleh pemerintah melalui program Silvikultur Intensif (SILIN) (Soekotjo, 2009). Dalam program SILIN meranti tembaga dijadikan spesies standar karena sebarannya luas di Pulau Sumatera dan Kalimantan.Untuk mendukung program SILIN dibutuhkan bibit meranti tembaga berkualitas secara berkesinambungan.Terkait dengan hal tersebut, pengadaan bibit dari materi vegetatif sangat dibutuhkan karena dukungan bibit dari materi generatif sulit disediakan secara berkesinambungan mengingat jenis ini tidak berbuah setiap tahun dan benihnya bersifat rekalsitran. Kendala lain yang ditemui dari jenis ini adalah perbanyakan vegetatif makro sulit dilakukan dari materi pohon induk yang tua.

Bertolak dari hal tersebut untuk mendapatkan bibit meranti tembaga berkualitas dari materi vegetatif maka dilakukan pengambilan materi genetik berupa benih dari hutan alam. Langkah awal yang dilakukan adalah pengambilan benih dari pohon-pohon induk terpilih yang secara fenotipik unggul, sehingga anakan yang dihasilkan diharapkan bagus. Berdasarkan hasil penelitian Cao, Finkeldey, Siregar, Siregar, & Gailing (2006) menunjukkan bahwa keragaman genetik antar populasi jenis meranti tembaga cukup tinggi sehingga pengambilan materi genetik dilakukan pada beberapa populasi yang ada di Kalimantan Timur. Mengacu pada hal tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keragaman pertumbuhan bibit meranti tembaga umur 6 bulan dari tiga polulasi di Kalimantan Timur.

Karakter atau sifat pohon yang merupakan parameter dalam penilaian fenotipe pohon antara lain: tinggi total pohon, tinggi bebas cabang, luas tajuk dan diameter batang. Berdasarkan pengamatan dan penilaian terhadap fenotipe pohon jenis meranti menunjukan bahwa sifat pertumbuhan yang terdapat pada setiap karakter pohon pada umumnya cukup baik. Karakter tinggi total pada pohon meranti sebagian besar memiliki tinggi lebih dari 20 meter, tinggi bebas cabang relatif hampir setengah dari tinggi total pohon. Pohon induk memiliki diameter yang cukup besar yaitu dengan persentase beda 235,66 % jenis Shorea parvifolia no 1 sebagai kandidat calon pohon induk terbesar, dan diameter yang paling kecil dengan persentase beda 107,42% jenis Shorea parvifolia no 3. Menurut Soekotjo (1977), pohon dengan tajuk terbuka atau pohon dominan merupakan pohon yang paling banyak menghasilkan biji. Hal itu disebabkan karena tersedianya karbohidrat dalam jumlah besar akibat dari aktivitas fotosintesa yang tinggi.

Agar bibit tumbuh secara optimal dilakukan kegiatan pemeliharaan, meliputi penyiraman, pengendalian hama dengan insektisida Curachron dan pengendalian penyakit dengan fungisida Score. Umur 3 bulan setelah penanaman dilakukan seleksi untuk memilih pertumbuhan 10 bibit terbaik per pohon induk. Bibit-bibit terseleksi dari masing-masing pohon induk selanjutnya dipindah dan disusun sesuai dengan rancangan percobaan yang telah direncanakan.

2.3 Bagaimana potensi keberadaan dari pohon meranti ?

Manfaat langsung dan tidak langsung yang berpotensi dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi yang berlebih. Penilaian terhadap manfaat yang potensi dihasilkan ini perlu dilakukan untuk memahami manfaat dari suatu kawasan. Penilaian ini merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang atau jasa untuk kepentingan manusia. Valuasi ekonomi pada prinsipnya bertujuan untuk memberikan nilai ekonomi terhadap sumberdaya yang digunakan sesuai dengan nilai riil dari sudut pandang masyarakat. Dalam melakukan valuasi ekonomi perlu diketahui sejauh mana adanya bias antara harga yang terjadi dengan nilai riil yang seharusnya ditetapkan dari sumberdaya yang digunakan tersebut. Ilmu ekonomi sebagai perangkat melakukan valuasi ekonomi adalah ilmu tentang pembuatan pilihan-pilihan. Pembuatan pilihan-pilihan dari alternatif yang dihadapkan kepada kita tentang lingkungan hidup adalah lebih kompleks, dibandingkan dengan pembuatan pilihan dalam konteks barang-barang privat murni.

Penilaian manfaat pohon pada suatu tempat dengan harga yang bernilai ekonomi perlu dilakukan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan posisi tawar, khususnya ketika terjadi benturan peruntukan dengan penggunaan lahan lainnya. Keterbatasan pengetahuan dan informasi yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam menentukan nilai manfaat keberadaan pohon secara ekonomi untuk menilai hasil kayu dan mentransformasikannya ke dalam nilai ekonomi berupa uang. Untuk memperoleh harga pasar digunakan daftar harga kayu bulat yang bersumber dari Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 22/M-DAG/PER/4/2012 tentang Penetapan Harga Patokan Hasil Hutan untuk Penghitungan Provisi Sumberdaya Hutan. Data biaya pemanenan kayu bulat bervariasi, tergantung jumlah hasil produksinya per hektar.

Nilai ekonomi kayu dihitung dengan pendekatan langsung yaitu menggunakan nilai pasar yang berlaku. Untuk memperoleh harga pasar digunakan daftar harga kayu bulat yang bersumber dari Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 22/M-DAG/PER/4/2012 tentang Penetapan Harga Patokan Hasil Hutan untuk Penghitungan Provisi Sumber Daya Hutan. Data biaya pemanenan kayu bulat bervariasi tergantung jumlah hasil produksi kayunya per hektar. Rata-rata kumulatif biaya tebang sebesar Rp 16.601,12,- per m3 dan biaya rata-rata angkutan menuju lokasi konsumen adalah Rp 70.716,70,- per m3 (Handhardari, 2002 dalam Sadjati, dkk., 2013).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

1.    Kayu meranti merupakan salah satu jenis kayu yang paling banyak digunakan dalam kebutuhan manusia. Selain kayunya, beberapa jenis shorea dikenal sebagai penghasil buah yang memiliki nilai perdagangan yang dikenal dengan buah tengkawang. Tengkawang dipergunakan sebagai bahan dasar pembuatan coklat, kosmetik, industri margarin, sabun, dan lilin. Meranti memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Namun, keberadaan tumbuhan endemik ini sudah hampir punah. Perlu dilakukan tindakan untuk melestarikan jenis.

2.    Kayu meranti (Shorea spp.) memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pengembangan hutan tanaman meranti tembaga di luar Jawa diejawantahkan oleh pemerintah melalui program Silvikultur Intensif (SILIN). keragaman genetik antar populasi jenis meranti tembaga cukup tinggi sehingga pengambilan materi genetik dilakukan pada beberapa populasi yang ada di Kalimantan Timur.

3.    Manfaat langsung dan tidak langsung yang berpotensi dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi yang berlebih. Penilaian terhadap manfaat yang potensi dihasilkan ini perlu dilakukan untuk memahami manfaat dari suatu kawasan. Penilaian ini merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang atau jasa untuk kepentingan manusia. Valuasi ekonomi pada prinsipnya bertujuan untuk memberikan nilai ekonomi terhadap sumberdaya yang digunakan sesuai dengan nilai riil dari sudut pandang masyarakat. Dalam melakukan valuasi ekonomi perlu diketahui sejauh mana adanya bias antara harga yang terjadi dengan nilai riil yang seharusnya ditetapkan dari sumberdaya yang digunakan tersebut.

3.2    Saran

Sebaiknya keberadaan dari pohon meranti harus lebih di aktifkan lagi, sebab pohon meranti ini sangat berpotensi sekali untuk kedepannya. Perlu pengawasan yang baik pada lokasi hutan  terhadap pengunjung, dan atau kegiatan yang lain yang berpotensi menurunkan kemampuan berkembangnya jenis-jenis flora dan fauna didalamnya.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Deden Hidayat. 2012. Studi Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat di Kawasan IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma Camp Tontang Kabupaten Sintang. Jurnal Vokasi. Vol 8 No 2. Hal : 61-88.

Elvan wahyu, dkk. 2015. Inventarisasi Permudaan Meranti (Shorea spp.) Pada Arboretum Kawasan Universitas Riau Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Jurnal Kehutanan. Vol 3 No 5. Hal : 1-14.

Jufrizal Syahri, dkk. 2012. BIOAKTIVITAS EKSTRAK KULIT BATANG TUMBUHAN LANGKA MERANTI LILIN (SHOREA TEYSMANIANA DIER). Jurnal Photon. Vol 3 No 1. Hal : 1-5.

Mashudi, dkk. 2018. Pertumbuhan Bibit Meranti Tembaga (Shorea leprosula) Umur 6 Bulan dari Tiga Populasi di Kalimantan Timur. Proceeding Biology Education Conference. Vol 15 No 1. Hal : 801-806.

Melly Dwi, dkk. 2020. ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU FACED FILM KAYU LAPIS MERANTI (Shorea spp.) DI PT BASIRIH INDUSTRIAL. Jurnal Sylva Scienteae. Vol. 03 No. 3. Hal: 551-559.

Pardo, dkk. 2014. VALUASI EKONOMI KAYU DAN KESEJUKAN KAWASAN ARBORETUM UNIVERSITAS RIAU. Jurnal Sylva Hutan. Vol 3 No 2. Hal : 15-17.

Samsul, dkk. 2016. SELEKSI POHON INDUK JENIS MERANTI (Shorea spp) PADA AREAL TEGAKAN BENIH IUPHHK-HA PT. SUKA JAYA MAKMUR KABUPATEN KETAPANG. JURNAL HUTAN LESTARI. Vol. 4 No 4. Hal : 637 – 643.

 

 

 

 

 


Komentar